Ketua Dewan Pengawas Syariah Sun Life Fathurrahman Djamil (kedua kiri) didampingi Direktur Utama PT Bank Sumut yang juga Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah Sumatra Utara Gus Irawan Pasaribu (kiri), Head of Syariah Sun Life Financial Indonesia Srikandi Utami (kanan) dan moderator Rizki memberikan penjelasan pada Seminar Sun Life Syariah di Hotel Madani, Medan, Sumut, Jumat (12/08). Seminar tersebut bertujuan mendidik masyarakat mengenai pentingnya perencanaan keuangan syariah.
Jumat, 21 Oktober 2011
Seminar Keuangan
"Mengkaji Sistem Governance Pengawasan Jasa Keuangan Ideal di Indonesia"
Pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang ideal berangkat dari pilar pendisiplinan pasar keuangan dar spekulasi berlebihan yang bepotensi menimbulkan krisis ekonomi. Pernyataan ini dilontarkan dosen Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti yang juga pengamat ekonomi dari ICW, Yanuar Rizky dalam seminar sehari "Mengkaji Sistem Governance Pengawasan Jasa Keuangan Ideal di Indonesia," yang dihadiri pesera sebanyak 85 orang.
Seminar ini diselenggarakan di Hotel Le Meridien Jl. Jend Sudirman Jakarta (14/07) atas Kerjasama Pusat Studi dan Keuangan (PUSPEK) Universitas Trisakti dengan Lembaga Komisaris dan Direksi Indonesia (LKDI) dan Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) serta didukung oleh Ikatan Bankir Indonesia (IBI). Seminar diawali sambutan Wakil Rektor I Prof. Dr. H. Yuswar Zainul Basri, Ak., MBA da dibuka oleh Wakil Ketua Ikatan Bankir Indonesia (IBI) Sigit Pramono.
Dalam sambutannya Sigit Pramono mengatakan bahwa UU Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus menjadi satu paket dengan UU Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) agar dalam pengambilan keputusan pada situasi krisis tidak ada pihak yang saling menyalahkan dan melempar tanggung jawab. Kehadiran UU JPSK lebih penting dan mendesak karena menjadi paying dalam mengantisipasi krisis yang dapat terjadi tiba-tiba. Indonesia tidak akan siap menghadapi krisis di masa transisi pelepasan pengawasan perbankan dari BI jika UU JPSK belum disahkan".
Ia mengakui, hingga saat ini masih ada perdebatan seru tentang perlu tidaknya pembentukan OJK. Di satu sisi institusi baru itu harus dibentuk sesuai amanat UU BI No.3 Tahun 2004, tapi disisi lain Indonesia dinilai belum siap menerapkan sistem ini. Karena itu, pihak penyusun UU dan pemerintah harus benar-benar memastikan siapa yang menjadi pengambil keputusan, terutama menjelang krisis. Sementara Yanuar Rizky mengatakan bahwa pembentukan OJK yang ideal berangkat dari pilar pendisiplinan pasar keuangan dari spekulasi berlebihan yang berpotensi menimbulkan krisis ekonomi.
"Keberadaan OJK harus mampu menata ulang berbagai produk pasar modal yang pada praktiknya sering merugikan investor. Berbagai produk sector keuangan di pasar modal, terutama kontrak pengelolaan dana sejauh ini tidak diatur secara baik oleh Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Pada praktiknya Bapaepam selalu melepas tangan jika investor ritel dirugikan akibat ketidakmampuan melakukan pengawasan". Lebih lanjut ia mengatakan jika pembentukan OJK tidak menyentuh masalah substansial dan tidak mengatur hal-hal teknis mendetail maka berbagai kelemahan pengawasan sektor keuangan akan kembali berulang.
"Jika hanya berfikir OJK akan menyelesaikan masalah tanpa melakukan pendisiplinan pasar maka kasus-kasus baru akan kembali terjadi," imbuhnya.
Yanuar memperingatkan bahwa selama ini tidak ada trasparansi penuntasan kasus-kasus pasar modal sehingga penyelesaiannya tidak pernah tuntas. Usai seminar Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah mengatakan bahwa, jalinan kerjasama OJK dan bank sentral seperti dalam pasal RUU OJK belum cukup menjelaskan bagaimana sistem ini akan dijalankan. Ia berpendapat, semestinya mekanisme pengawasan antara keduanya harus berjalan secara otomatis.
"Pembentukan suatu tim atau forum seperti yang tertuang dalam RUU OJK belum optimal bentuk integrasinya bisa berupa komisioner dari BI yang ikut terlibat dalam pengawasan OJK namun komisioner tersebut tidak bisa diletakkan dalam satu lembaga yang terpisah dari sejumlah fungsi pengendali moneter yang ada di BI."
"Pengaturannya bisa juga dibawah OJK, tapi koordinasinya lebih baik dalam satu struktur yang memungkinkan itu terjadi secara otomatis. Di level teknis, pembentukan tim atau forum memang bisa berjalan, namun di level atas kesibukan masing-masing bisa mnghambat koordinasi," kata Halim. Dalam kesempatan ini, tampak hadir Wakil Dekan II FE Usakti Dr. Bambang Soedaryono, Ak, MBA., Ketua Program Magister Ilmu Ekonomi Prof. Dr. Tiktik Sartika Pratomo, MS., Kepala Biro Adm. Keuangan Endyk M. Asror, SH MH dan Kepala Humas Hj. Hasijani H. Wahjono, SE. MM serta para dosen FE Usakti.
IBFI Gelar Seminar Internasional Keuangan Islam
Jakarta (22/9)- Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi modal penting bagi perkembangan industri keuangan Islam, terlebih dalam menghadapi tren keuangan global. Oleh karena itu, hari ini Islamic Banking Finance Indonesia (IBFI) Trisakti sebagai salah satu lembaga pendidikan menggelar seminar internasional keuangan Islam bertajuk “Islamic Finance : Towards Achieving Greater Financial Inclusion“.
Seminar tersebut adalah upaya yang ditempuh IBFI agar “cakrawala” keuangan Islam di Indonesia dapat terbuka luas. Seminar ini sendiri diharapkan juga dapat memberikan wacana baru dan menjadi ajang saling tukar pengalaman serta pemikiran terkait dunia keuangan Islam di negeri ini.
Direktur IBFI Trisakti, Prof. Sofyan Safri Harahap menuturkan bahwa untuk menghadapi keuangan dunia yang semakin kompleks, maka diperlukan sebuah sistem yang dapat keluar dari sebuah krisis. “Seminar ini merupakan ajang untuk menjawab tren keuangan dunia yang tidak menentu,” ujarnya seperti dikutip dari siaran pers yang terima.
Seminar ini menghadirkan beberapa pembicara yang sangat berkompeten di bidangnya. Hadir sebagai pembicara Dr. Ashraf Wadji Dusuki, Executive Director Asian Institute Of Finance, Badlisyah Abdul Ghani, Praktisi Perbankan Syariah Malaysia, Rizqullah, Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah, Indra W. Supriadi, Chairman of Sahabat UKM-Sampoerna Microfinance, Benny Wicaksono, Direktur Utama Bank Mega Syariah, dan Saat Suharto, Dirktur Utama PT BMT Permodalan Ventura. (Ul)
BI Selenggarakan Seminar Internasional Keuangan Syariah
Yogyakarta, (21/4). Untuk merespon laju perkembangan keuangan syariah dunia, Bank Indonesia (BI) menyelenggarakan seminar internasional keuangan syariah untuk pertama kalinya yang digelar pada 20-21 April 2011 di Yogyakarta.
Dalam seminar Internasional tersebut BI mengambil tema “Can The Indonesia Islamic Finance Sustain The High Growth Regime Up to 2015 Beyond?” yang membahas tentang isu industri keuangan dan perbankan syariah.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah, dalam press conference kemarin (20/4/2011), mengatakan seminar internasional tersebut diharapkan dapat menghasilkan ide-ide baru dan meningkatkan kinerja industri perbankan syariah serta dapat mengangkat citra Indonesia di dunia internasional.
“Maka selain membahas tentang sistem keuangan syariah dunia kami berharap sekaligus sarana efektif sebagai media infomasi dan jejaring untuk menarik investor domestik maupun asing, menanamkan modalnya dalam bisnis perbankan syariah.” Ujarnya.
Dalam acara seminar Internasional, Halim menegaskan, ada lima isu utama yang dibahas dalam seminar itu antara lain menguak peran perbankan syariah mendukung pembangunan ekonomi dan stabilitas keuangan. Kemudian peran Pemerintah dan BI untuk mendukung pengembangan perbankan syariah.
“Tak lupa kesiapan Sumber Daya Insani untuk mengisi perbankan syariah secara kuantitatif dan kualitatif, harmonisasi perbedaan pandangan aspek syariah di berbagai negara, serta perkembangan produk dan jasa perbankan syariah dan tantangan yang dihadapi juga menjadi sebuah isu yang krusial,”ujarnya.
Dalam profile seminar internasional lembaga keuangan syariah tersebut di hadiri oleh oleh para pakar keuangan syariah dari luar dan dalam negeri, baik kalangan regulator, akademisi maupun praktisi seperti Prof Mahmood Faruqui dan Humprey Percy (Senior Advisor dan CEO Bank of London and the Middle East), Prof Maximilian Hall (Loughborough University), Prof Andrew White (Singapore Management University), Mr Bakarudin Ishak (Assistant Governor of Bank Negara Malaysia) dan lainnya.
Langganan:
Komentar (Atom)